Di Kusuma, warna tidak hanya dilihat sebagai hasil akhir. Warna adalah jejak material, proses, waktu, dan tangan yang mengolahnya.
Tentang Program PISN 2026
Melalui Program PISN 2026 dengan judul “Inovasi Pewarna Tekstil Berbasis Limbah Organik Domestik untuk Pengembangan Praktik Seni Tekstil dan Kriya Berkelanjutan”, Kusuma mengembangkan eksplorasi pewarna alami dari limbah organik domestik. Material yang sering dianggap sisa, seperti kulit buah, rempah, dan limbah dapur, dipelajari kembali sebagai sumber warna untuk tekstil dan produk kriya.
Kenapa Limbah Organik Domestik?
Industri mode dan tekstil konvensional merupakan salah satu penyumbang pencemaran air terbesar karena penggunaan pewarna sintetis beracun. Di sisi lain, limbah sisa makanan rumah tangga menumpuk di TPA dan memproduksi gas metana. Kusuma melihat peluang sirkularitas di sini: mengubah masalah limbah domestik menjadi solusi warna alami untuk tekstil artisan.
Eksplorasi Material & Proses Eksperimen
Dalam riset ini, kami memfokuskan eksperimen pada beberapa material limbah dapur populer:
- Kulit Bawang Merah & Putih: Menghasilkan warna kuning keemasan, tan hangat, hingga jingga bumi tergantung jenis mordannya.
- Biji Alpukat: Menghasilkan warna dusty pink (merah muda berdebu) yang lembut dan elegan.
- Kulit Manggis: Menghasilkan warna abu-abu keunguan (plum gelap) yang tenang dan mistis.
Setiap material diolah melalui 6 tahap siklus laboratorium kriya kami: Collect (mengumpulkan limbah) → Extract (merebus untuk mengambil warna) → Dye (pencelupan manual serat kain) → Dry (pengeringan matahari lambat) → Craft (dijahit menjadi produk) → Use (perawatan lestari oleh konsumen).
Kontribusi & Masa Depan
Program PISN 2026 ini memperkaya katalog arsip warna botani Kusuma dan membuktikan bahwa produk mode ramah lingkungan dapat tampil eksklusif, tahan lama, dan memiliki cerita dampak sosial-ekologis yang nyata.